Senin, 11 Maret 2013

Ahh lagi-lagi

Ahh lagi-lagi, kau berpindah begitu cepatnya, lagi-lagi kenyataan yang harus segera disadari. kenyataan yang tak bisa disebut pahit, tak bisa juga dirasa manis. lebih tepatnya hambar....

ya, sehambar nasi basi kemarin. basi? tentu, siapa sangka dia.. dia bidadari itu, bidadari yang tak pernah kusadari sosoknya, bidadari yang ternyata sedekat ini? terlalu dekat malah.
pantas saja, bidadari yang begitu elok cantik dan menawan itu, siapa sangka seorang gadis remaja aktif itulah bidadari yang tak kusadari, lalu? kau kemanakan cinderellamu? tiba-tiba lenyap hilang? dan sekarang kau berlari, belok kanan untuk bidadari ini? tak heran, tak kaget pula. untuk sosoknya yang begitu elok nan indah, tak heran siapa yang tak teralihkan karenanya, siapa pula yang tak terpana dengan paras manis dan cantiknya? dengan senyum ramahnya dia akan selalu tersenyum padamu.
Tidak tidak, jangan kau fikir apa padaku. abaikan.. abaikan saja, toh kau tak mengetahui apapun yang aku fikirkan, toh kau tak mengerti apa yang aku maksud, dan terutama kau memang tak pernah menganggapku ada.






kita semua dekat, sangat dekat, itu yang membuatku tak menyangka, sesingkat itukah kau beralih dari seorang putri disebrang? secepat itukah kau berlari menuju bidadari yang ada di depan mata ini? cepat, sangat cepat kawan, terlalu cepat bahkan kau belum mengizinkan bulan kembali pada jarak apogeenya. belum :)Lalu, dengan alasan waktu singkat, sesingkat laju cahaya ini kau beralih dengan alasan apa? apalagi kalau bukan keelokannya. tentu,, siapa yang tak mengenalimu? siapa yang tak mengerti kepribadianmu? pola pikirmu akan hal-hal yang semuanya dinilai dengan skala "fisik"!! Cantik, jelek, manis atau apalah itu. siapa ?? semua tau kawan, semuanya !!!


Pada siapa aku harus mengeluh? apa aku harus marah pada Tuhan? kenapa pula Tuhan menciptakan hamba-hambanya berbeda? apa aku harus marah? Tuhan menciptakan hamba-hambanya dengan "kecantikan" yang berbeda-beda? apa aku harus marah pada Tuhan? Perlukah aku berteriak bahwa Tuhan itu tak adil?
tentu tidak, Kita saja yang tega membuat definisi sendiri soal kecantikan. Semua bayi terlahir cantik, menggemaskan. Semua anak-anak tumbuh menjadi remaja dengan kecantikan masing-masing. Lantas dewasa juga dengan kecantikan masing-masing, bukan? :)
Mungkin kadang, kenyataan memang harus dihadapi, kadang kenyataan juga membuktikan, Ada yang memang sejak lahir hidungnya sudah mancung, matanya sudah bagus, rambutnya bagus. Dan bukankah juga ada yang sejak lahir sudah pesek, kulitnya hitam, rambutnya jelek. Di mana coba letak adilnya? Kita tidak bisa memesan, kalau bisa, kita semua pasti minta dilahirkan cantik.
Jiwa bergejolak, tak bisa dengan mudahnya ku salahkan Tuhan, itu salah kau!! para manusia. Itu karena kita semua terlanjur menterjemahkan cantik seperti itu, bukannya Tuhan tidak pernah memberikan definisi kecantikan.
Astaga, apa yang aku bicarakan. sudahlah... biarlah semua mengalir, biarlah semua bersatu, bertemu di lautan, entah nanti aku hanya menjadi endapan marine, atau kembali menjadi batuan beku, bertransportasi kembali menjadi magma atau melaju menjadi titik-titik batu malihan, siapa tahu? Tuhan tak akan ikut campur terlalu panjang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar