Minggu, 11 Desember 2011

Menyontek di Kalangan ANAK KELAS

Setelah sekian bulan aku nggak buka blog ini, akhirnya aku pun sadar bahwa blog ini nggak pernah di update. (ya iyalah) Lah mau gimana lagi, akhir-akhir ini aku lagi sibuk banget ngurusi sekolah. Entah itu tugas, ulangan, maupun remidi.
Ngomong-ngomong, semenjak aku mulai masuk semester 2, aku jadi sering kena remidi lhoo.. Remidi fisika & PKn sih masih wajar, tapi herannya aku jadi sering kena remidi kimia sama biologi juga. Apa jangan-jangan ini pertanda bahwa aku tidak pantas untuk menjadi…. guru biologi? *jduer*
Jujur ya, aku udah bener belajar sebelum ulangan meskipun itu cuma SKS (Sistem Kebut Sehari, lebih mujarab daripada Sistem Kebut Semalam) . Jadi mestinya sih aku bisa nggak remidi tapi mau gimana lagi, memang sudah takdir Sang Ilahi bahwa aku harus remidi. :(
Tapi aku mulai bingung ketika semakin banyak ulangan dan remidi yang kuhadapi, semakin sedikit jumlah anak yang ikut remidi bersamaku. cari temen maksudnya Aku jadi mulai penasaran apa yang menyebabkan aku yang belajar keras setiap mau ulangan hari jadi kalah oleh teman-temanku yang lain.
Dan setelah aku analisis dengan membandingkan data-data dari pola belajar, tingkah keseharian, dan proses sosialisasi diri saya sendiri dengan milik teman-teman sekelas saya, saya dapat menyimpulkan bahwa saya selalu remidi gara-gara saya tidak pernah menyontek sewaktu ulangan. Kok bisa gitu?
Coba kita tengok salah satu prinsip yang universal dan tidak asing berikut:
Orang yang memanfaatkan setiap kesempatan yang ada akan mendapat keuntungan lebih besar daripada mereka yang membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja.
Sekilas memang prinsip tersebut sangat bijak dan cerdas. Baik dari kata-katanya maupun aplikasinya, memang tidak dapat dibilang salah, meskipun penerapan prinsip tersebut sering disalahgunakan orang, termasuk di kalangan pelajar. Disini, orang yang memanfaatkan kesempatan adalah pelajar, sedangkan kesempatan itu sendiri adalah ‘kesempatan’ dimana kita mendapat suatu waktu yang berharga untuk melakukan tindakan tak terpuji pada waktu ulangan.
Yap, misalnya waktu guru pengawas sedang ngantuk-ngantuknya sehingga tidak konsentrasi menjaga ulangan, atau guru menerima panggilan Tuhan di telepon genggamnya sehingga perhatiannya teralihkan dari murid yang sedang ulangan menuju lawan bicara di teleponnya. Atau ketika guru sedang sangat sangat sibuk sehingga saat ulangan tidak ada seorangpun yang menjaga ketertiban ulangan sehingga kesempatan mencontek itu menjadi sangat besar hingga lebih dari 80% waktu ulangan.
Bagi pelajar yang memegang teguh prinsip pemanfaatan kesempatan di atas, pastinya ia tidak akan membuang waktunya untuk bersusah payah mengerjakan ulangannya sendiri. Tinggal toleh kanan toleh kiri, semua soal pun terjawab. Atau lebih ekstrimnya, buka buku yang sudah disiapkan di laci bangku, dan jawaban lengkaplah sudah.
Cara praktis tersebut cocok sekali bagi pelajar yang berpikiran praktis, bahkan saking praktisnya, usaha dalam menggapai nilai bagus pada ulangan tersebut hampir tidak ada. Sedangkan untuk kita yang tidak ingin mendapat nilai ‘murahan’ macam begitu?
Meskipun kesempatan untuk berbuat perbuatan tak terpuji itu datang dan sangat besar jumlahnya, tidak sempat terlintas di pikiran untuk mencontek. Alasannya macam-macam memang. Ada yang takut dosa, ada yang tidak sempat berpikir untuk mencontek karena pikiran sudah terpakai untuk mengerjakan soal ulangan, ada yang takut mendapat image ‘tukang nyontek’, bahkan ada yang saking sibuknya merenungi soal yang tidak dapat dijawab sehingga waktu habis dan tidak sempat berpikiran untuk menyontek.
Bagi anda yang menjawab alasan pertama, selamat karena anda masih ingat Tuhan meskipun di keadaan genting seperti itu. Namun bagi anda yang menjawab alasan terakhir, anda memang tidak cerdas. alias bodoh :)
Lalu, apakah dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah jalan terbaik untuk mendapat nilai bagus? Bukankah Jujur itu Mujur? Tapi mengapa saya malah Jujur itu Ajur (hancur. hancur karena jujur tapi malah remidi)? abaikan
Kalau kamu memilih menyontek untuk mendapat nilai bagus, lalu apa bedanya kamu dengan koruptor?
Ya beda lah, koruptor kan nyolong duit, eh aku kan berusaha buat cari nilai.
Berdasar hasil yang didapatkan memang beda, tapi apa prinsipnya nggak sama? Menyontek itu mengambil jawaban teman untuk mendapat nilai bagus. Korupsi itu mengambil uang rakyat untuk mendapat kekayaan. Jadi sama aja prinsip nyontek sama korupsi.
Eh, tapi kan nyontek cuma sekarang, ntar pas gede nggak korupsi kok.
Kata siapa? Justru dengan terbiasanya kita akan prinsip menyontek tersebut, semakin mudah kita melakukan hal lain dengan prinsip yang sama. Jadi, maaf bagi anda yang menyontek saat ulangan tapi meneriakkan kata anti-koruptor. Justru andalah orang yang akan melanjutkan kegiatan orang-orang yang ‘kata anda anda benci.
Apa kamu mau menjadi calon koruptor yang nantinya dibenci orang banyak seperti kamu membenci para koruptor tersebut? Jika tidak, maka tinggalkanlah budaya menyontek. Daripada bertanya saat ulangan, mengapa tidak bertanya sebelum ulangan? Padahal kesempatan untuk bertanya dengan halal itu tersedia banyak, asalkan anda memang berniat untuk mengerjakan ulangan itu dengan jujur.
Tetapi kalau kamu mengalami Jujur tapi Ajur, berarti kamu nggak beda jauh sama aku. Meski jujur dengan mengharap bantuan dari Allah swt, tetapi pada akhirnya tetap saja remidi. Yah, bagaimanapun…
Sejujur-jujur tupai melompat, pasti akhirnya jatuh juga.
-unknown-
Hehe, peace. :P Tapi aku janji, aku bakal lebih rajin belajar di semester depan, dan semoga nilai-nilaiku kembali naik lagi seperti semester 1 yang lalu. Amiin…
Ngomong-ngomong, aku nulis gini gara-gara nggak sabar nungguin pembagian rapor semester ini. Gila ah, masa ditunda sampe 2 minggu dari jadwal aslinya. Dasar orang Indonesia, semakin hari semakin ngaret. Lama-lama bisa muncul prinsip baru buat seluruh orang Indonesia kalo orangnya kayak gini terus.
Orang Indonesia selalu terlambat di setiap aktivitas, kecuali satu, yaitu waktu berbuka puasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar