Senin, 06 Juni 2011

Definisi cinta secara ilmiah

Saat menginjak remaja dan dewasa, kita sering mendefinisikan cinta sebagai rasa suka pada lawan jenis, dimana kita merasa nyaman/betah untuk berada didekatnya, dan ingin selalu menghabiskan waktu bersamanya. Banyak definisi akan cinta, dan cinta dapat bersifat abstrak, lebih gampang mengalaminya daripada harus menjelaskannya.

Konon, cinta tid...ak mengenal usia. Saat jatuh cinta, apabila tidak bertemu/melihat pujaan hati, kita seperti orang yang kecanduan suatu zat, sehingga menimbulkan rasa gelisah apabila tidak mengkonsumsinya. Ini disebabkan zat kimia dopamine, yang diproduksi oleh bagian pada otak tengah manusia, tidak mengherankan karena otak tengah mengatur penglihatan kita. Bukankah untuk jatuh cinta, terkadang kita perlu melihat fisik sang kekasih ? Maaf, untuk yang tidak dapat melihat.

Saat jatuh cinta, kita seperti mendapat suntikan suplemen yang hebat, kita menjadi kuat, tangguh dan pantang menyerah. Ini disebabkan produksi zat kimia adrenalin, yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh sehingga jantung kita berdetak lebih cepat. Sering saat jatuh cinta dan memikirkan lawan jenis, kita juga menjadi lupa makan atau tidak ingin makan, hal ini karena adrenalin dapat menekan nafsu makan. Setelah bertemu lawan jenis yang kita cintai, kita mengalami rasa gembira yang luar biasa, zat kimia endorphin yang diproduksi saat jatuh cinta, memicu munculnya rasa gembira. Saat melakukan kontak fisik, seperti berjalan bergandengan atau membelai, zat kimia oxytocin membantu kita untuk mengalami saat menyenangkan.

Menurut Profesor Stephanie Ortigue, ada 12 area otak yang berperan menghasilkan zat kimia disaat kita jatuh cinta, jadi mungkin, cinta berasal dari otak, tapi kita sering menganggap, hati yang lebih berperan dalam proses jatuh cinta. Mungkin ungkapan cinta “dari mata turun ke hati”, akan mengalami revisi menjadi “dari otak turun ke hati”, mengingat proses yang terjadi pada otak, memberikan rangsangan/dorongan yang dapat mempengaruhi hati, atau lebih tepat “dari mata, diproses oleh otak, kemudian ditanggapi oleh hati” :)

Para peneliti juga mengembangkan terapi untuk mereka yang mengalami putus cinta. Saat putus cinta, produksi phenylethylamine (PEA) dalam tubuh akan berkurang, sehingga memunculkan ketakutan pada seseorang. Seperti kita ketahui, setiap tahunnya diseluruh dunia, selalu ada orang yang bunuh diri karena putus cinta. Keputusan yang diambil seseorang untuk mengakhiri hidupnya karena putus cinta, dapat terjadi dalam hitungan detik, seperti jatuh cinta, yang juga dapat terjadi dalam waktu seperlima detik.

Tapi, saya tidak menyarankan kalian untuk jatuh cinta dalam waktu seperlima detik, apalagi pada orang yang baru kalian kenal lewat dunia maya. Untuk yang baru mengenal internet dan facebook, berhati-hatilah apabila akan melakukan pertemuan dengan orang yang baru dikenal.

Saya mungkin berasal dari budaya, latar belakang keluarga, dan cara berpikir yang berbeda dengan kalian. Tapi yang pasti, cinta adalah perasaan untuk menghargai orang lain, janganlah mencoba untuk menjalin cinta apabila kita belum siap untuk berbagi, atau masih lebih mementingkan diri sendiri. Apalagi untuk melangkah ke jenjang pernikahan, sudah mampukah anda untuk melihat wajah yang sama setiap hari, saat anda terjaga dari tidur di pagi hari ?
Sesuatu yang harus diputuskan dengan tidak terburu-buru, dan perlu pemikiran yang matang.

Untuk yang telah menikah, dan terkadang “kehilangan” cintanya, sadarlah air laut selalu mengalami pasang surut, terkadang tenang terkadang bergelombang, tapi bukan berarti kita harus berhenti mengarungi lautan. Untuk temanku yang baru berpisah atau kehilangan cinta, ada ungkapan “cinta tidak harus memiliki”, mungkin hal ini bersifat relatif, dunia cukup luas dan banyak hal lain di luar sana, saya rasa kamu cukup bijak untuk akan dapat melewati masa sulit ini, kembali ceria seperti biasa, dan menemukan cinta yang lain :)

Cinta bersifat universal, cinta terhadap keluarga, cinta pada teman, cinta pada alam, cinta pada bangsa dan negara, atau kasih pada Sang Pencipta. Dalam buku “The Art of Loving”, ada empat indikasi cinta, yaitu C.R.R.K. (Care, Responsibility, Respect, dan Knowledge). Cinta memang kegiatan yang melibatkan rasa empati, tanggung jawab, perhatian, saling menghormati dan menghargai. Cinta seperti rasa yang dihasilkan saraf otak ke seluruh anggota tubuh. Energi cinta seakan tanpa batas, dan bahkan mungkin dapat melanggar hukum-hukum fisika.

Hal yang tidak dapat dipungkiri, cinta dapat mendukung kesuksesan, kedamaian, atau ketentraman hati. Sesuatu yang pasti diinginkan oleh setiap manusia di planet ini.

Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2150064-menjelaskan-cinta-secara-ilmiah/#ixzz1Nwuj3lWL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar